Pages

Thursday, May 31, 2012

JANGKA SABDA PALON: RAMALAN KEHANCURAN ISLAM DI JAWA?

PENDAHULUAN
Salah satu buku berbahasa Jawa yang sering dengan tujuan memunculkan ruang berjarak antara Islam dan Jawa adalah kitab “Jangka Sabda Palon”. Umumnya, upaya-upaya yang mengarahkan untuk memicu gap ini lebih banyak disebabkan penafsiran yang kurang memperhatikan pemahaman komprehensif terhadap keseluruhan teks. Kitab jangka tersusun dari rangkaian tembang macapat ini sering disebut secara lengkap sebagai Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, selanjutnya diingkat sebagai Jangka Sabda Palon. Penamaan ini mungkin disebabkan konten buku ini selain memuat kisah tentang tokoh Sabda Palon, juga berisi tentang mitologi “Prabu Jayabaya”. Serat Jangka Sabdo Palon diyakini merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita. Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, dalam bukunya “Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon”, menjelaskan bahwa dalam jangka tersebut terdapat sandi asma yang menunjukkan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita.[1]
Anggapan yang berkembang saat ini, umumnya, menyatakan bahwa “Jangka Sabda Palon” merupakan sebuah kitab jangka yang berbicara tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Opini ini rupanya telah diamini oleh sejumlah pihak tanpa mencoba bersikap kritis dan mempertanyakannya kembali. Kebanyakan orang yang turut mengiyakan pendapat ini, sering tidak memiliki akses membaca dari sumbernya secara langsung. Hanya ikut arus mengikuti wacana umum yang berkembang secara taken for granted. Hal yang paling dirasakan, akibat kurang totalitasnya pemahaman terhadap substansi Jangka Sabda Palon adalah muncul sejumlah klaim atas penafsirannya. Klaim ini sudah tentu mewakili kepentingan tertentu untuk menjustifikasi bahwa ajaran yang dimaksud sebagai “pengganti Islam” adalah ajaran dari pemilik klaim tersebut. Terkait klaim-klaim yang muncul dari penafsiran Jangka Sabda Palon akan dibahas selanjutnya.
Kesalahpahaman yang telah terjadi ini, tidak jarang masih coba dipertahankan eksistensinya. Beberapa penulis belakangan ini berusaha memancing kembali perdebatan tentang Jangka Sabda Palon. Ruang yang selama ini telah tersekat, sepertinya hendak ditambah sekatnya kembali sehingga kenyamanan dialog yang harusnya terus dibina justru semakin jauh panggang dari api. Bambang Noorsena, misalnya, tokoh Kristen Ortodoks Syiria ini dalam bukunya “Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” merupakan salah satu penulis yang mencoba mengangkat kembali tema “marginalisasi Islam” dengan menggunakan “Jangka Sabda Palon”. Noorsena menggambarkan bahwa Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon ini merupakan salah satu gambaran bahwa Penolakan manusia Jawa yang direpresentasikan oleh tokoh Sabda Palon terhadap ajaran Islam karena agama ini dianggap memiliki corak keagamaan yang politis dan doktriner.[2] Selanjutnya, Noorsena membuat pernyataan bahwa Islam di Jawa pun pada akhirnya mengalami asimilasi dengan keyakinan agama terdahulu. Tentu saja, statemen Bambang Noorsena ini juga lahir dari membebek pendapat yang berkembang belaka, bukan didasarkan pada pengkajian secara langsung terhadap materi yang dibahasnya. Lebih jauh, sangat dimungkinkan Bambang Noorsena tidak membaca secara tuntas buku yang digunakan sebagai referensinya, termasuk Serat Jangka Sabda Palon. Perlu diketahui buku Bambang Noorsena ini seringkali menggunakan “Teori Pengaruh” yang tidak terstruktur dengan baik. Kelemahan paling umum yang sering dilakukan oleh penghasung teori pengaruh ialah kecenderungan membuat generalisasi secara terburu-buru, penarikan kesimpulan berdasarkan data yang belum lengkap, memaksakan data yang sebenarnya tidak relevan, dan pengamatannya hanya bersifat parsial.
KLAIM DAN KESALAHPAHAMAN
Isu tentang agama “pengganti Islam” di Jawa sempat menguat dalam Seminar Kebathinan Indonesia I pada 14-15 Nopember 1959 di Jakarta. Ketua Umum badan Kongres Kebathinan Indonesia (BKKI), Mr. Wongsonegoro, dalam pendahuluan seminar melontarkan isu tentang visi nubuatan sumpah Sabda Palon terhadap Prabu Brawijaya. Di antara isi sumpah itu, bahwa 500 tahun kemudian  akan berkembang biak gerakan kebatinan di Tanah Jawa.[3] Dapat dikatakan bahwa kaum kebatinan yang ikut terlibat dalam kongres tersebut telah memanfaatkan Serat Jangka Sabdo Palon dengan membuat klaim bahwa ajaran “pengganti Islam” yang dimaksud dalam Jangka Sabda Palon adalah “Kebatinan”. Hal ini merupakan klaim pertama terkait penafsiran Jangka Sabda Palon.
Sedangkan klaim kedua terdapat dalam Serat Darmagandul yang baru ditulis pada 16 Desember 1900 M menyatakan bahwa berakhirnya Agama Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh ajaran Kristen. Salah satu bagian dari isi Serat Darmagandul juga menceritakan tentang adanya Jangka Sabda Palon. Dalam Serat Darmagandul ini digambarkan bahwa Prabu Brawijaya yang telah di-Islamkan oleh Sunan Kalijaga, kemudian meminta kepada Sabda Palon, abdinya, agar mengikuti agama barunya. Sabda Palon menolak ajakan Prabu Brawijaya, tuannya. Bahkan diceritakan Sabda Palon lantas mengeluarkan kutukan bahwa akan banyak orang Jawa yang meninggalkan Islam dan berganti dengan agama kawruh.[4]
Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh …”
(Orang Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam besok, berganti agama kawruh …)
Ada pun yang dimaksud dengan agama kawruh dalam Serat Darmagandul tersebut, tidak lain adalah Kristen. Pendapat ini sejalan dengan hasil tulisan dua orang akademisi dan orientalis Belanda yaitu G. W. J. Drewes[5] dan Philip van Akkeren.[6] Hal ini dapat dilihat dari isi Serat Darmagandul, salah satunya adalah sebagai berikut:
Lamun seneng bukti, woh wit kadjeng kawruh, Anyebuta asmane Djeng Nabi, Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane,[7]
(Jika suka dengan bukti, buah pohon kayu pengetahuan, (Maka) sebutlah nama beliau Nabi  Isa yang termuat, turutilah agamanya, )
Perlu diketahui bahwa cerita Sabda Palon dalam Serat Darmagandul tersebut telah mengambil ide cerita sepenuhnya dari Serat Babad Kadhiri yang ditulis pada 1832 M. Namun demikian terkait dengan “kutukan” bernuansa ramalan dari Sabda Palon bahwa agama Kawruh akan menggantikan ajaran Islam merupakan inisiatif penulis Darmagandul sendiri. Jadi hal ini murni pemikiran pengarang Serat Darmagandul. Harus dipahami bahwa keseluruhan isi Serat Darmagandul memang lebih tepat dikatakan sebagai hasil dari “plagiasi” dari Serat Babad Kadhiri, kecuali pada tema-tema tentang Kristen dan pelecehan terhadap Islam. Serat Darmagandul ini merupakan karya seorang Kristen yang sedang menjalankan proyek orientalisme pada masa penjajahan Belanda.[8]
Dengan demikian telah kita dapatkan dua klaim penafsiran atas substansi dari Jangka Sabda Palon. Di satu pihak, kalangan kebatinan menganggap bahwa Jangka Sabda Palon merupakan visi ke depan tentang eksistensi ajaran kebatinan. Di lain pihak jangka tersebut ditafsirkan sebagai nubuatan “kedatangan” Kristen di Jawa. Kedua penafsiran ini jelas tidak lepas dari motif dan kepentingan masing-masing.
Selain kedua penafsiran di atas, jika Jangka Sabda Palon dimaknai secara tekstual maka akan ditemukan adanya cita-cita menghidupkan Agama Budha kembali. Hal ini dapat dilihat dalam jangka yang bercerita tentang dialog antara Sabda Palon dan Prabu Brawijaya sebagai berikut:
Klawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sak pungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus tahun, wit ing dinten punika, kula gantos kang agami, gama Buda kula sebar tanah Jawa”.[9]
(Adapun paduka Sang raja, kembali ke alam baka, hanya saja saya meminta anda memperhitungkan bahwa sepeninggal saya, jika sudah tiba waktunya, genap lima ratus tahun, mulai hari itu, akan saya ganti agama (Islam), agama Budha akan saya sebar di tanah Jawa).
Penafsiran bahwa Jangka Sabda Palon merupakan justifikasi bagi munculnya kembali ajaran Budha maupun kelahiran  kebatinan, umumnya lebih banyak dianut oleh sejumlah kalangan di Jawa. Namun dimaksud oleh pengarang tentu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Maksudnya, dalam hal ini tidak secara harfiah sebagaimana istilah yang digunakan “agama Budha”. Sebab tujuan akhir sang pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.
EKSISTENSI SABDA PALON
Jika kita telusur lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih sekedar sebagai karya sastra saja. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar di masyarakat. Dalam tradisi oral yang berkembang di sekitar Trowulan, sebuah wilayah yang diyakini sebagai salah satu situs Majapahit, tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan tokoh yang diyakini hidup pada masa Majapahit dan memiliki pekerjaan sebagai abdi dalem Keraton. Cerita-cerita babad kemudian memanfaatkan tradisi lesan yang berkembang ini, dengan meminjam nama Sabda Palon dan Naya Genggong, kemudian memberi peran baru kepada kedua tokoh ini, dan pada giliran selanjutnya diangkat dari derajadnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa. Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palon dan Noyo Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Proses demikian adalah hal biasa terjadi mengingat adanya sejumlah kepentingan yang bermain.
Kenyataannya dalam tradisi lesan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam tradisi oral masyarakat adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agama Islam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanya sebagai sosok mitologis. Berdasarkan keterangan resmi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan), kedua tokoh tersebut merupakan dua di antara 7 (tujuh) dari nama orang yang dimakamkan di situs makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut merupakan makam abdi dalem Majapahit yang telah memeluk agama Islam.[10]
Makam abdi Majapahit yang telah memeluk Islam. Nampak kalimat Syahadat terukir di nisannya. (Dok. Susiyanto)
Dengan keterangan tersebut, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam cerita rakyat justru merupakan penganut ajaran Islam. Sehingga setelah wafatnya disemayamkan dalam pemakaman Islam pula. Meskipun demikian Cerita tentang keberadaan nama Sabda Palon dan Noyo Genggong di situs Troloyo ini hanya didasarkan kepada tradisi lesan yang berkembang pada masyarakat di sekitar situs itu saja. Kebenarannya sudah tentu sukar diverifikasi. Namun tidak diragukan lagi bahwa cerita-cerita babad yang saat ini beredar, umumnya banyak yang menggali ide ceritanya dari tradisi lesan yang berkembang di suatu masyarakat tertentu. Kemudian tradisi lesan yang ada, diberi muatan nilai baru dan dimodifikasi sesuai pesan yang hendak disampaikan sehingga muncullah mitos tersebut.
KRITIK ATAS PEMAHAMAN
Sebagai sebuah jangka yang dinyatakan memiliki visi ramalan, Jangka Sabda Palon bukannya tanpa kritik. Perlu dimengerti bahwa memahami Jangka Sabda Palon sebagai sebuah “ramalan” sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh sebuah pola cara pandang. Bagi seseorang yang menyukai klenik, dengan menghubung-hubungkan Jangka Jayabaya dengan sebuah kepentingan tertentu maka bisa saja didapatkan kesimpulan bahwa jangka ini telah m”meramalkan sesuatu”.
Namun dengan cara demikian jelas banyak kelemahan yang akan ditemui. Sebut saja misalnya Jangka Jayabaya menyebutkan bahwa pada masa berlakunya “ramalan” maka akan terjai sebuah jaman yang paling menyengsarakan penduduk Tanah Jawa. Masa yang dimaksud ditandai dengan sengkalan sebagai “Lawon Sapta Ngesthi Aji”. Jika diterjemahkan ke dalam bentuk angka maka sengkalan tersebut akan menunjukkan tahun 1877 tahun Jawa. Hal ini ditunjukkan dalam Jangka Sabda Palon sebagai berikut:
Sanget-sangeting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinengkalan tahunira, Lawon sapta Ngesthi Aji, upami nyabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandhang, jerone nglelebne jalmi, kathah manungsa prapteng pralaya
(Waktu paling sengsara yang terjadi di tanah Jawa terjadi pada sengkalan tahun Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama menyeberang sungai setelah sampai di tengah-tengah, sungainya banjir besar, kedalamannya menenggelamkan manusia, banyak manusia yang tewas)
Pemaknaan atas isi Jangka Sabda Palon tersebut sudah tentu bisa bermacam-macam tergantung cara pandang yang dimiliki penafsirnya. Tradisi Jawa sendiri tidak memiliki metodologi yang jelas dalam berinteraksi dengan bentuk-bentuk teks semacam ini. Salah satu cara pandang yang bisa dikemukakan adalah dengan melihat peristiwa apa saja yang terjadi pada tahun Jawa tersebut. Angka tahun 1877 tahun Jawa jika dikonversi ke dalam penanggalan masehi maka akan didapatkan angka tahun 1945 atau 1946 M.[11] Jika angka tahun tersebut dihubungkan dengan “kesengsaraan yang terjadi di tanah Jawa” maka akan didapatkan hasil yang membingungkan. Sebab diketahui bersama bahwa pada tahun 1945-1946 ini bangsa Indonesia termasuk penduduk tanah Jawa sedang berada dalam suasana kegembiraan karena “ Atas berkat rahmat Allah yang maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur … maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”[12] Tentu saja hal ini bisa ditafsirkan dengan cara yang lain dimana bentuk-bentuk penafsiran tersebut tidak dapat dibatasi dengan satu cara pandang saja. Dengan demikian klaim-klaim terkait penafsirannya bisa saja tidak sepi dari motif dan kepentingan.
Motif dan kepentingan tertentu juga bisa berlaku dalam kasus penafsiran Jangka Sabda Palon sebagai “anti Islam” dan “menubuatkan” lenyapnya Islam di tanah Jawa. Jika diteliti secara mendalam, istilah-istilah seperti agama Buda atau Budi dalam jangka Sabda Palon ternyata tidak menunjukkan adanya eksistensi ajaran Agama Budha sama sekali. Jadi yang dimaksud dengan Agama Buda atau Budi ternyata memiliki makna istilahiy yang lain dari makna aslinya. Hal ini ditunjukkan dalam penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon sebagai berikut:
Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji, …
(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)
Justru Jangka Sabda Palon dari segi isinya menunjukan bahwa ada keinginan mendalam dari tokoh “Sabda Palon” untuk menganut Islam pada masa yang akan datang, yaitu pasca lima ratus tahun ramalannya. Dalam pandangan Sabda Palon ajaran Islam yang dibawa oleh para Wali Songo, termasuk Sunan Kalijaga, belum merupakan ajaran Islam yang sempurna. Sabda Palon berkehendak menganut ajaran agama ini jika telah diajarkan secara sempurna, bebas dari sinkretisme. Hal ini ditunjukkan sebagai berikut:
Thathit kliweran ing nusa Jawa, pratandhane wong nuduhna, sampurnakna agamane, yeku agama rasul, anyebarna Islam Sejati, duk jaman Brawijaya, ingsun datan purun, angrasuk agama Islam, marga ingsun uninga agama niki, nlisir saking kang nyata.[13]
Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, menafsirkan kalimat di atas bahwa pada masa kehidupan Prabu Brawijaya, raja Majapahit, tokoh Sabda Palon belum bersedia menganut Agama Islam dan lebih memilih menganut Agama Budha.[14] Alasannya, Sabda Palon masih menganggap bahwa penganut Islam saat itu masih menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Namun pada saatnya kelak, jika Agama Islam telah diajarkan secara murni, maka Sabda Palon akan bersedia memeluk Agama Islam.[15]
Dalam anggapan Sabda Palon, Islam belum dianggap mencapai kesejatian atau kemurnian jika hanya diamalkan menjadi ibadah ritual belaka tanpa memperhatikan kebersihan jiwa. Juga tidak menjadi murni jika hanya diucapkan dibibir namun tidak menjadi praktek nyata.[16] Bahkan pada bagian akhir Jangka ini tokoh Sabda Palon mengancam “manusia Jawa” jika mereka tidak mengikuti dirinya memeluk agama rasul yaitu islam yang sejati. Maka akan berat tanggungjawabnya kelak. Hal ini ditujukkan sebagai berikut:
Sampurnakna agamane, yeku agama Rasul, Islam kang sejati … Ngelingana he pra umat sami, yen sira tan ngetut kersaning wang, yekti abot panandhange, ingsun pikukuhipun, nuswantara ing saindenging, …[17]
Dengan demikian anggapan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya sastra yang memperkuat mitos bahwa Islam akan lenyap dari bumi Jawa terbukti tidak benar. Jangka Sabda Palon justru berbicara sebaliknya bahwa Islam akan sampai kepada pemurnian ajarannya dimana Sabda Palon sendiri berkehendak memeluk agama tersebut. Hal demikian memang sulit dipahami, sebab banyak bahasa simbol yang digunakan dalam kitab tersebut.
Kesalahan penafsiran terhadap jangka Sabda Palon, sebagai “nubuatan” Kristen, Budha, maupun kebatinan lebih banyak didasarkan kepada kepentingan tertentu. Juga disebabkan kurang teliti menganalisa Jangka tersebut.
PENUTUP
Lepas dari semua pembahasan di atas, Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon hanya merupakan sebuah karya sastra belaka. Kisah-kisah yang ada di dalamnya juga tidak bisa digunakan sebagai sumber bagi kajian sejarah. Beberapa pembahasan yang dihadirkan di dalamnya banyak disemangati oleh nilai-nilai tasawuf. Meskipun demikian juga tidak dalam segala hal harus diterima sebagai karya yang Islami. Juga tidak bisa diremehkan sebagai buku yang ala kadarnya. Hanya saja mungkin, dengan menjernihkan kesalahpahaman ini maka akan tercipta sebuah dinamisasi dialogis yang lebih baik bagi Islam di Jawa.
Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon bukan merupakan karya yang harus dikategorikan sebagai karya sastra yang mengambil sikap menetang hukum syariat (murang syarak). Melainkan karya yang mampu menjembatani “kebuntuan” dan kebekuan relasi dialogis yang telah mengungkung selama sekian waktu akibat kurang mendalamnya perhatian di antara kita. Perlu diketahui naskah-naskah berbahasa Jawa yang memperlihatkan sikap murang syarak, secara nominal sebenarnya hanya minoritas saja, sekedar “suara pinggiran”. Hal itupun kadang tidak lepas dari pengaruh “negatif” masa Penjajahan Belanda, tercipta dari kaum yang telah terbeli tekadnya. Hanya saja jumlah yang hanya sedikit dibandingkan karya-karya yang memberikan apresiasi positif terhadap Islam ini, seringkali diangkat secara besar-besaran, sehingga kesannya apresiasi yang terakhir ini mewakili wajah Jawa. Oleh karena itu kewaspadaan hendaknya menjadi bagian dari kesadaran umat seluruhnya di Jawa. [Susiyanto – Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)).
FOOTNOTE

[1] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal. 35
[2] Lihat Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 32, 43
[3] Lihat Kata Pendahuluan dalam Hasil Seminar Kebathinan Indonesia Ke-I Djakarta. (Badan Kongres Kebathinan Indonesia, Jakarta, 1959). Hal. 8
[4] Lihat Anoname. Darmagandul. Cetakan IV. (Tan Khoen Swie, Kediri, 1955). Hal. 63-93
[5] Lihat G. W. J. Drewes. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul. Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. (S. Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966). Hal. 327
[6] Melihat sedemikian kentalnya ajaran kekristenan dalam Serat Darmagandul, sampai-sampai Philip van Akkeren berspekulasi bahwa pengarang serat tersebut adalah Tunggul Wulung, seorang Kristen dari kalangan suku Jawa. Meskipun demikian tidak dapat ditampik bahwa Serat Darmagandul memang hasil karya penganut ajaran Kristen. Lihat Dr. Philip van Akkeren. Serat Darmagandul, Karya Tunggul Wulung dan Pekabaran Injil di Jawa Timur. Dalam wacana akhir buku karya Bambang Noorsena. Menyongsong ... Opcit. Hal. 332
[7] Lihat anoname. Darmagandul. Cetakan IV. (Tan Khoen …). Hal. 4
[8] Lihat Susiyanto. Darmagandul dan Orientalisme. Dalam Jurnal ISLAMIA (Harian REPUBLIKA Edisi Kamis 13 Agustus 2009). Hal. 25
[9] Ramalan Jaya Baya versi Sabda Palon dalam Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal. 29-30
[10] Lihat Brosur Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan). Drs. I. Made Kusumajaya, M.Si. et. all. Visit Majapahit Kingdom Sites. (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata – Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, Mojokerto). Tentang keberadaan makam Islam di Majapahit tersebut lihat  Drs. I. Made Kusumajaya, M. Si, et.all. Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan. (Tidak diterbitkan). Juga Denys Lombard. Nusa Jawa : Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II : Jaringan Asia. Cetakan III. (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005). Hal. 34
[11] Terkait cara penghitungan dan konversi tahun baik Hijriyah, Masehi, maupun Tahun Jawa lihat Noname. Almanak 130 Tahun 1870 – 2000. Cetakan II. (CV. Citra Jaya, Surabaya, 1984)
[12] Pembukaan Undang-undang Dasar 1945
[13] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi …Opcit. Hal. 39
[14] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid. Hal. 46
[15] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi…. Ibid. Hal. 70
[16] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid. Hal. 70
[17] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid. Hal. 39

Sumber :  
http://susiyanto.wordpress.com/2010/01/24/jangka-sabda-palon-ramalan-kehancuran-islam-di-jawa/

No comments:

Post a Comment

ya

Galery Tragedi Tugu Tani


Saksi Tragedi Maut Di Tugu Tani

Tragedi Maut Di Tugu Tani, Jakarta Pusat

Bukti ilmiah bahwa Quran itu benar

Subhanallah, Orang Perancis Masuk Islam Setelah Melihat Sungai Di Dasar Laut dan Mengetahui bahwa hal itu tertulis dalam Al-Quran.

Video dan gambar dibawah ini adalah bukti adanya sungai di bawah laut yang tercantum dalam Al Quran surat Al-Furqan:53 dan surat Ar-Rahman:19-20.

http://www.youtube.com/watch?v=8q3Qa2k5i_E

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Menampilkan: Al-Furqan (25) No. Ayat : : 53


وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخاً وَحِجْراً مَّحْجُوراً

25.53. Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Al Furqan ayat 53 di atas dan surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi

Menampilkan: Ar-Rahman (55) No. Ayat : : 19-20

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

55.19. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ

55.20. antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .


Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi

Menampilkan: Ar-Rahman (55) No. Ayat : : 22

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

55.22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.


Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara. Mutiara hanya bisa ditemukan di samudra / laut. Dan pada perbatasan dua sungai tersebut terdapat kerang/mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam

Akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Jika Anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah ta’ala.

//----dikutip dari suaramedia.com ----//

Keajaiban Al-Qur'an

Keajaiban Al-Qur'an
Sungai Dalam Laut

Keajaiban Al-Qur'an

Keajaiban Al-Qur'an
Sungai Dalam Laut

Keajaiban Al-Qur'an

Keajaiban Al-Qur'an
Sungai Dalam Laut

Keajaiban Al-Qur'an

Keajaiban Al-Qur'an
Sungai Dalam Laut

Foto Keajaiban Al-Qur'an

Foto Keajaiban Al-Qur'an
Sungai Dalam Laut

Untuk Direnungkan......!!!



~Jangan jadikan aku isterimu, jika kamu cepat Bosan & Berpaling pada Perempuan lain.
Jawab :
+Jangan kau pilih aku jadi suamimu, jika nanti setelah menikah kau tak bisa bersolek buat suamimu, tapi kau bersolek buat orang lain.

~Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk menganti popok anakmu ketika dia terbangun malam hari, sedangkan selama sembilan bulan aku harus membawa nya diperut ku.
Jawab :
+Jangan sering mengandalkan suami untuk membantumu hanya sekedar mengganti popok anak kita; padahal suami sudah seharian mencari nafkah untuk kamu sebagai isteri..

~Jangan jadikan aku isterimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka & sedih dan kamu lebih memilih teman perempuan lain untuk bercerita. aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidur mu yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jawab:
+Jangan kau sangka aku bercerita atau curhat pada teman wanitamu dan kau anggap selingkuh, karena kamu tak pernah bertanya pada suami, apa saja tugas2 di kantor yang membebaninya....Jangan mudah cemburu dan berprasangka...

~Jangan jadikan aku isteri mu, jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita selesai bercinta.kamu harus tau aku menikmati kebersamaan denganmu.
Jawab:
+Kebersamaan bukan harus terus bermanja-manja dan mengatur atas otoritas suami pada isteri....juga jangan sampai melupakan ibadah kepada Allah......

~Jangan jadikan aku isteri mu, jika dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan bercerai/berpisah padaku.
Jawab :
+Ketidakcocokan itu ada pada siapa, siapa yang memulai dan kenapa harus dibiarkan menjadi masalah yang besar. Cari solusi bersama dan hilangkan keangkuhan masing2...

~Jangan jadikan aku isterimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingati kesalahan ku.sedangkan aku tidak tuli dan masih bisa mendengarkan kata katamu yg lembut tapi berwibawa.
Jawab:
+Tidak tuli. namun sebagai isteri tidak mengindahkan peringatan suami, apa artinya teguran suami jika suami sudah memberitahu kalau isterinya bersalah....jangan membuat suami sampai gusar...apalagi berlarut-larut.....

~Jangan jadikan aku isterimu, jika setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman teman mu.
Jawab:
+Aku harap kamu harus memaklumi dan memahami tugas dan tanggungjawab suami serta tugas2 suami di kantor dengan cara bertanya kepada suami.....jangan cepat berprasangka....apalagi menuduh dan memfitnah suami...

~Jangan pilih aku sebagai isterimu, jika nanti kamu malu membawaku kepesta temen temenmu&memperkenalkan aku sebagai istrimu. Takkan kubiarkan kamu biarkan aku sebagai pajangan dirumah sedangkan kamu lebih memilih berpergian dengan temen temanmu. Bagiku pasangan bukan sebuah trofi atau pajangan
Jawab:
+Sebagai suami jelas tahu dan paham, tetapi isteri jangan sering menuntut untuk hadir ke pesta yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan kehadiranmu disana....jangan bersolek berlebihan di pesta hanya untuk memamerkan perhiasan yang kamu punya...

~Jangan Pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang.kamu tentunya tau kalau kamu juga ikut andil besar dengan melar nya tubuh ku.
Jawab:
+Sebagai seorang isterinya tentunya kamu paham, kalau suami suka dengan tubuh langsing, akan tetapi kamu tidak berusaha dan merawat kelangsingan tubuh kamu. Kamu hanya menuruti hobimu yang suka makan tiada henti...ingat itu...

~Jangan Buru Buru Menjadikan ku Sebagai Isterimu, Jika saat ini kamu masih belum bisa menerima Kekurangan & Kelebihanku. Sedang seiring waktu kekurangan bukan semakin tipis tapi semakin NYATA....
Jawab:
+Hendaknya keduabelah pihak saling menerima kekurangan dan kelebihan masing2. bukannya seperti ini: Wanita berkata :"Pilih aku apa adanya, tetapi buat pria kau berkata"Kau ADA APANYA" buat ku.....heheheeee...

Gerakan OPM di Video Youtube

Muhammad Yahya Waloni

Ceramah mantan pendeta, Muhammad Yahya Waloni.
Mantan rektor universitas kristen Papua,
Sudah pernah mengangkat pendeta sebanyak 3000 pendeta lebih...
Akhirnya mendapatkan hidayah dan masuk islam...


Al-Qur'an Online

No. Surah Dengarkan Ayat Dengarkan TerjemahanJumlah SurahTempat Turun
1. Al-Fatihah MP3 | SWF Player7Makiyah
2. Al-Baqarah MP3 | SWF Player286Madinah
3. Ali Imran MP3 | SWF Player200Madinah
4. An-Nisaa MP3 | SWF Player176Madinah
5. Al-Maidah MP3 | SWF Player120Madinah
6. Al-An'am MP3 | SWF Player165Makiyah
7. Al-A'raf MP3 | SWF Player206Makiyah
8. Al-Anfaal MP3 | SWF Player75Madinah
9. At-Taubah MP3 | SWF Player129Madinah
10. Yunus MP3 | SWF Player109Makiyah
11. Huud MP3 | SWF Player123Makiyah
12. Yusuf MP3 | SWF Player111Makiyah
13. Ar-Ra'd MP3 | SWF Player43Madinah
14. Ibrahim MP3 | SWF Player52Makiyah
15. Al-Hijr MP3 | SWF Player99Makiyah
16. An-Nahl MP3 | SWF Player128Makiyah
17. Al-Israa' MP3 | SWF Player111Makiyah
18. Al-Kahfi MP3 | SWF Player110Makiyah
19. Maryam MP3 | SWF Player98Makiyah
20. Thaahaa MP3 | SWF Player135Makiyah
21. Al-Anbiyaa MP3 | SWF Player112Makiyah
22. Al-Hajj MP3 | SWF Player78Madinah
23. Al-Mu'minuun MP3 | SWF Player118Makiyah
24. An-Nuur MP3 | SWF Player64Madinah
25. Al-Furqaan MP3 | SWF Player77Makiyah
26. Asy-Syu'araa MP3 | SWF Player227Makiyah
27. An-Naml MP3 | SWF Player93Makiyah
28. Al-Qashash MP3 | SWF Player88Makiyah
29. Al-'Ankabuut MP3 | SWF Player69Makiyah
30. Ar-Ruum MP3 | SWF Player60Makiyah
31. Luqman MP3 | SWF Player34Makiyah
32. As-Sajdah MP3 | SWF Player30Makiyah
33. Al-Ahzab MP3 | SWF Player73Madinah
34. Saba' MP3 | SWF Player54Makiyah
35. Faathir MP3 | SWF Player45Makiyah
36. Yaa Siin MP3 | SWF Player83Makiyah
37. Ash-Shaaffat MP3 | SWF Player182Makiyah
38. Shaad MP3 | SWF Player88Makiyah
39. Az-Zumar MP3 | SWF Player75Makiyah
40. Al-Mu'min MP3 | SWF Player85Makiyah
41. Fushshilat MP3 | SWF Player54Makiyah
42. Asy-Syuura MP3 | SWF Player53Makiyah
43. Az-Zukhruf MP3 | SWF Player89Makiyah
44. Ad-Dukhaan MP3 | SWF Player59Makiyah
45. Al-Jaatsiyah MP3 | SWF Player37Makiyah
46. Al-Ahqaaf MP3 | SWF Player35Makiyah
47. Muhammad MP3 | SWF Player38Madinah
48. Al-Fat-h MP3 | SWF Player29Madinah
49. Al-Hujuraat MP3 | SWF Player18Madinah
50. Qaaf MP3 | SWF Player45Makiyah
51. Adz-Dzaariyat MP3 | SWF Player60Makiyah
52. Ath-Thuur MP3 | SWF Player49Makiyah
53. An-Najm MP3 | SWF Player62Makiyah
54. Al-Qamar MP3 | SWF Player55Makiyah
55. Ar-Rahmaan MP3 | SWF Player78Madinah
56. Al-Waaqi'ah MP3 | SWF Player96Makiyah
57. Al-Hadiid MP3 | SWF Player29Madinah
58. Al-Mujaadilah MP3 | SWF Player22Madinah
59. Al-Hasyr MP3 | SWF Player24Madinah
60. Al-Mumtahanah MP3 | SWF Player13Madinah
61. Ash-Shaff MP3 | SWF Player14Madinah
62. Al-Jumuah MP3 | SWF Player11Madinah
63. Al-Munaafiqun MP3 | SWF Player11Madinah
64. At-Taghaabun MP3 | SWF Player18Madinah
65. Ath-Thalaaq MP3 | SWF Player12Madinah
66. At-Tahriim MP3 | SWF Player12Madinah
67. Al-Mulk MP3 | SWF Player30Makiyah
68. Al-Qalam MP3 | SWF Player52Makiyah
69. Al-Haaqqah MP3 | SWF Player52Makiyah
70. Al-Ma'aarij MP3 | SWF Player44Makiyah
71. Nuh MP3 | SWF Player28Makiyah
72. Al-Jin MP3 | SWF Player28Makiyah
73. Al-Muzzammil MP3 | SWF Player20Makiyah
74. Al-Muddatstsir MP3 | SWF Player56Makiyah
75. Al-Qiyaamah MP3 | SWF Player40Makiyah
76. Al-Insaan MP3 | SWF Player31Madinah
77. Al-Mursalaat MP3 | SWF Player50Makiyah
78. An-Naba' MP3 | SWF Player40Makiyah
79. An-Naazi'aat MP3 | SWF Player46Makiyah
80. 'Abasa MP3 | SWF Player42Makiyah
81. At-Takwiir MP3 | SWF Player29Makiyah
82. Al-Infithaar MP3 | SWF Player19Makiyah
83. Al-Muthaffif MP3 | SWF Player36Makiyah
84. Al-Insyiqaaq MP3 | SWF Player25Makiyah
85. Al-Buruuj MP3 | SWF Player22Makiyah
86. Ath-Thaariq MP3 | SWF Player17Makiyah
87. Al-A'laa MP3 | SWF Player19Makiyah
88. Al-Ghaasyiyah MP3 | SWF Player26Makiyah
89. Al-Fajr MP3 | SWF Player30Makiyah
90. Al-Balad MP3 | SWF Player20Makiyah
91. Asy-Syams MP3 | SWF Player15Makiyah
92. Al-Lail MP3 | SWF Player21Makiyah
93. Adh-Dhuhaa MP3 | SWF Player11Makiyah
94. Alam Nasyrah MP3 | SWF Player8Makiyah
95. At-Tiin MP3 | SWF Player8Makiyah
96. Al-'Alaq MP3 | SWF Player19Makiyah
97. Al-Qadr MP3 | SWF Player5Makiyah
98. Al-Bayyinah MP3 | SWF Player8Madinah
99. Az-Zalzalah MP3 | SWF Player8Madinah
100. Al-'Aadiyaat MP3 | SWF Player11Makiyah
101. Al-Qaari'ah MP3 | SWF Player11Makiyah
102. At-Takaatsur MP3 | SWF Player8Makiyah
103. Al-'Ashr MP3 | SWF Player3Makiyah
104. Al-Humazah MP3 | SWF Player9Makiyah
105. Al-Fiil MP3 | SWF Player5Makiyah
106. Quraisy MP3 | SWF Player4Makiyah
107. Al-Maa'uun MP3 | SWF Player7Makiyah
108. Al-Kautsar MP3 | SWF Player3Makiyah
109. Al-Kaafiruun MP3 | SWF Player6Makiyah
110. An-Nashr MP3 | SWF Player3Madinah
111. Al-Lahab MP3 | SWF Player5Makiyah
112. Al-Ikhlash MP3 | SWF Player4Makiyah
113. Al-Falaq MP3 | SWF Player5Makiyah
114. An-Naas MP3 | SWF Player6Makiyah
Jumlah Surah:114 Jumlah Ayat:6236

Wanita Penghuni Neraka

Saudariku Muslimah ... . Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah subhanahu wa taala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tem
Senin, 22/04/2013 08:56 WIB
Wanita Penghuni Neraka
Saudariku Muslimah ... .

Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah subhanahu wa taala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah subhanahu wa taala telah melarang darinya. Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.

Saudariku ..... Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah subhanahu wa taala di dalam Al Quran tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Allah subhanahu wa taala berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : "Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka."

Ibnu Abbas radliyallahu anhu juga mengomentari ayat ini : "Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka."

Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah subhanahu wa taala.

Di dalam surat lainnya Allah subhanahu wa taala berfirman :
"Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya beliau bersabda :
"Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam." ( Shahihul Jami)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau shallallahu alaihi wa sallam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu anhum :
" ... dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : "Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?" Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab : "Karena kekufuran mereka." Kemudian ditanya lagi : "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab : "Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu. " (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma )

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :
" ... dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu anhu )

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita." (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : "Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat."